Home
 
Sekali Layar Terkembang Tengok-Tengok ke Belakang (11)
Takut Membekas di Hati, Setelah Pidato "Pangeran Lukman Edy" pun Kabur Tinggalkan Sang Putri

Selasa, 10/10/2017 - 15:40:11 WIB

Lukman Edy juga hidup dalam lingkungan politikus. Tercatat, ayahnya merupakan anggota DPRD Riau pada era Orde Baru dan kakaknya Indra Mukhlis Adnan merupakan mantan Bupati Indragiri Hilir, Riau selama dua periode, yakni 2004-2009 dan 2009-2014. Walaupun demikian, Lukman Edy tak lantas menggunakan popularitas atau nama keluarganya dalam mendongkrak citra dirinya dalam kancah politik. (Penulis, Lina M Komarudin dan Ade Wiharso)

SEBAGAI anak yang aktif di sekolah dan juga dalam pelajaran seni, Lukman Edy pun diminta membuat Sendra Tari oleh pihak sekolah pada acara Pentas Seni saat perpisahan sekolah.

Saat itu ia duduk di kelas 3 SMA 6 Pekanbaru yang merupakan sekolah paling elit saat itu. Di sekolah tersebut, ia memiliki seorang yang ditaksir di kelas yang berbeda. Sudah sejak dari kelas 2 Lukman Edy dan gadis tersebut aktif di OSIS, Pramuka maupun Paskibra.

"Guru saya minta saya latihan nari setiap hari, karena kami memang yang terbaik saat itu dalam membawakan tarian tersebut," ungkapnya.

Dalam acara tersebut, rencananya Lukman Edy membawakan Sendra Tari yang ia buat dan ia berperan sebagai pangerannya. Cerita dalam tarian tersebut merupakan cerita rakyat Riau dan tarian tersebut memang dilakukan secara berpasangan.

Suatu hari Lukman Edy merenungkan apa yang dilakukannya, ia galau dengan keputusannya dalam menyajikan tarian yang akan dipentaskannya saat pentas seni perpisahan sekolah nanti.

"Dalam proses tersebut saya bertanya kepada diri saya sendiri, benar nih saya menari? Jangan-jangan lama-lama saya jadi penari beneran nih, bisa bahaya!" ungkapnya lagi.

Walaupun galau ia tetap melanjutkan latihan tariannya tersebut. Tarian itu dikenal dengan tarian Zapin. Ciri khas tarian Melayu memang pada gerakan kakinya yang halus, ini berbeda dengan tarian Jawa yang terpusat pada gerakan tangan. Langkah gerakan kaki yang halus ini telah dimiliki olek Lukman Edy, apalagi ia tahu bakatnya turun dari ayahnya yang merupakan penari dan pecinta seni.


Pada malam hari sebelum acara perpisahan sekolah, Lukman Edy pun akhirnya memutuskan sesuatu. Ia tahu, bahwa keputusannya akan membuat banyak orang di sekolah marah atau dia dianggap tidak bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan, tapi tekadnya sudah bulat untuk mengakhirinya.

"Pada hari perpisahan itu, saya sebagai ketua panitia naik ke podium memberikan sambutan, dan setelah itu saya langsung pulang ke rumah," ungkapnya sambil tertawa mengenang perilakunya dahulu.

Tentu saja di sekolah menjadi ribut karena pemeran pangerannya tidak ada, kabur. Akhirnya, dengan terpaksa demi menyelamatkan acara yang telah disusun secara matang, Sang Guru Kesenian pun turun tangan dan dia-lah yang menggantikan peran Lukman Edy sebagai pangeran dalam tarian tersebut.

Lukman Edy mengambil keputusan untuk tidak menari memang sudah dipikirkannya secara matang. Ia ingin menghentikan bakat menarinya, dan selain itu ia juga tak ingin membuat imej yang membenarkan bahwa ia adalah pasangan di sekolah. Karena dengan tarian tersebut, maka ia akan sangat membekas diingatan, dan Lukman Edy tak ingin semua itu terjadi.

"Pertama kan saya tak mau diklaim menjadi pasangan oleh sekolah. Tak mau jadi klaim karena yang cewek ini putrinya, saya pangerannya. Karena ini akan membekas. Ini akan membekas lama, jika di perpisahan saya tampil berdua, ini sampai kapan pun akan membekas. Wah... ini tak bisa saya bilang. Imejnya. Nah, yang kedua ini saya ingin hentikan bakat saya jadi penari. Saya ingin hentikan, saya gak mau jadi penari. Dalam hati saya lebay banget kalau saya jadi penari," pungkasnya.

Lalu, bagaimana dengan sang guru yang menggantikan Lukman Edy saat itu? Diakui Lukman Edy, kejadian itu juga sangat membekas di hati guru keseniannya. Ia masih terus ingat dan terkenang dengan kelakuan Lukman Edy yang kabur setelah memberikan sambutan.

"Iya, guru saya selalu ingat dengan kejadian itu. Jika bertemu saya maka ia akan bilang; Wah kamu ngerjain saya hahaha..." cerita Lukman Edy sambil tertawa mengingat gurunya. [*]

"Sebuah Biografi Lukman Edy, Sekali Layar Terkembang Tengok-Tengok ke Belakang". Pengantar Jusuf Kalla, Penulis Lina M Komarudin dan Ade Wiharso.

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2012-2017
replica handbags replica watches uk