Home
 
Sekali Layar Terkembang Tengok-Tengok ke Belakang (13)
Walau Pejabat Terpandang, Adnan Mewajibkan Anak-Anaknya untuk Mandiri dan Tetap Hidup Sederhana

Kamis, 12/10/2017 - 11:15:25 WIB

Sebagai partai baru pasca reformasi, tentu bukan hal yang mudah bagi Lukman Edy untuk menghijaukan Riau dengan PKB. Ia harus berjuang bahkan rela berjalan dari desa ke satu desa lainnya untuk mensosialisasikan PKB di kalangan masyarakat Riau saat itu. Banyak tantangan yang mendera saat ia menjalani pilihannya itu, namun semua itu kini telah berbuah manis. (Penulis, Lina M Komarudin dan Ade Wiharso)

MENJADI anak seorang tokoh atau pejabat siapa yang tidak mau, apalagi diberikan fasilitas-fasilitas yang membuat hidup lebih mudah merupakan impian semua anak tentunya. Karir politik Muhammad Adnan berawal dengan diangkatnya ia menjadi Pembantu Camat hingga akhirnya menjadi Ketua DPRD Indragiri Hilir dan Anggota DPRD Riau. Dengan jabatan tersebut dapat dikatakan Lukman Edy berada di lingkungan terpandang.

Namun ingatannya itu tidak berlaku bagi anak-anak dari keluarga Adnan. Semua anak-anaknya ia tekankan untuk hidup mandiri dan tidak diberikan kemudahan dalam fasilitas ataupun dimanjakan dengan mainan dan materi. Anak-anaknya dari awal sekolah diwajibkan untuk mandiri dan berpenampilan sederhana.


Kadang Lukman Edy tak habis pikir mengapa bapaknya melakukan hal tersebut, hingga akhirnya ia ikuti semua aturan dari bapaknya. Bapaknya memang sosok yang kalem, dingin tapi penuh wibawa dan kharismatik. Berbeda dengan ibunya yang begitu cerewet dalam segala urusan, Lukman Edy faham karena semua urusan rumah tangga ibunya yang menangani. Dari makanan, pakaian hingga sekolah. Wajar saja jika ibunya demikian, bukankah memang seharusnya seperti itu.

Adnan memiliki hobi bermain catur, beberapa kali Lukman Edy dan kakaknya Indra Mukhlis main catur melawan bapaknya tersebut tetapi mereka selalu kalah. Adnan memang sangat jago main catur dan tak terkalahkan. Itulah mengapa Lukman Edy berpikir, bapaknya memang lihai dalam berpolitik secara nyata tak hanya ketika bermain catur.

"Dengan dimasukkannya anak-anaknya dalam pramuka, paskibra dan kegiatan lainnya seolah-olah kami memang telah disiapkan menjadi seorang politikus," katanya.

"Bukan hanya itu, kami seperti dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangannya terutama dalam membangun Riau," ungkapnya lagi.

Tak heran jika jiwa kepemimpinan Lukman Edy yang muncul, bukan hanya karena keturunan dari darah bapaknya yang mengalir di dalam diri Lukman Edy, tetapi juga dari ajaran-ajaran yang baik secara langsung maupun tidak langsung membangkitkan jiwa-jiwa kepemimpinan.


Ketika kuliah, Lukman Edy hanya dikirimi uang sekitar lima puluh ribu rupiah per bulan. Padahal jika dilihat saat itu untuk anak seukuran dia seperti kawan-kawannya yang merupakan anak-anak pejabat, kepala dinas dan anggota DPRD, mereka mendapat kiriman uang sekitar dua ratus ribu rupiah. Sungguh jumlah yang sangat besar dibandingkan dengan uang yang diterima Lukman Edy dari bapaknya.

Lukman Edy membayar kosan dengan harga dua puluh lima ribu rupiah, belum lagi bayar kuliah dan makan sehari-hari. Adnan tahu itu kurang, tapi ia membiarkannya. Tujuannya, agar anak-anaknya menjadi kreatif dan berusaha sendiri dalam mencukupi kekurangan-kekurangan bulanannya.

Lukman Edy pun harus terus memutar otak agar pengeluaran uang bulanannya tetap mencukupi. Ia pun tak segan mencari kerja sambilan. Selain itu, ia juga selalu ambil bagian menjadi koordinator acara atau panitia dalam setiap acara kampus agar dapat jatah makan gratis.

Selain itu, Lukman Edy juga sering menjadi koordinator acara daerah terutama daerah Riau. Dengan begitu ia sering kecipratan rezeki dari pejabat yang menjadi sponsor acara, baik makan, ataupun tiket pulang ke Riau. Sehingga dapat dikatakan saat pulang kampung Lukman Edy tak pernah membeli tiket sendiri, ia sering mendapatkan ongkos mudik gratis.


Namun, semua itu tidak menggadaikan idealismenya sebagai mahasiswa yang selalu vokal dalam menyuarakan kebenaran dan kesejahteraan rakyat. Ia terus menerus mengawal pemerintahan agar terus berubah menjadi lebih baik bagi rakyat Indonesia.

Berkat keaktifannya dalam berorganisasi, ia sering mewakili kampusnya untuk menjadi juru bicara pada pertemuan-pertemuan mahasiswa se-Indonesia, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Di sana juga ia bertemu dengan kakaknya, Indra Mukhlis Adnan yang merupakan seorang aktifis juga di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Dengan begitu kakak beradik ini makin kompak, dan inilah mungkin yang disebut, "Bapak seolah-olah menggiring saya menjadi politisi," pungkasnya. [*]

"Sebuah Biografi Lukman Edy, Sekali Layar Terkembang Tengok-Tengok ke Belakang". Pengantar Jusuf Kalla, Penulis Lina M Komarudin dan Ade Wiharso.

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2012-2017
replica handbags replica watches uk