Home
Selasa, 02/06/2020 - 10:50:52 WIB
WHO Konfirmasi Virus Ebola di Kongo, Netizen: Semoga Enggak Jadi Pandemi Baru
Selasa, 02/06/2020 - 06:39:27 WIB
Sulit Tidur Saat Pandemi, Alasan Dwi Sasono Hisap Ganja
Selasa, 02/06/2020 - 06:28:45 WIB
KPK Tangkap Nurhadi dan Menantunya
Senin, 01/06/2020 - 14:13:32 WIB
MPR Desak Polri Tak Tahan Ruslan Buton Karena Pakai Pasal Karet
Senin, 01/06/2020 - 14:12:38 WIB

Senin, 01/06/2020 - 13:03:18 WIB
Bulan Mei Ditutup 700 Kasus Baru Corona dan Target Meleset Presiden Jokowi
Senin, 01/06/2020 - 13:02:30 WIB
Polsek Daha Selatan Diserang, 1 Polisi Meninggal Disabet Samurai
Senin, 01/06/2020 - 12:43:55 WIB
Lockdown Dicabut, Kasus Baru Dan Kematian Di Bangladesh Meroket
Senin, 01/06/2020 - 12:39:56 WIB
Orang-orang Afrika Serang Pejabat AS: Duta Besar Yang Terhormat, Negara Anda Memalukan!
Senin, 01/06/2020 - 12:16:13 WIB
Ratusan Orang Hadiri Pemakaman Iyad Khayri, Pria Palestina Yang Ditembak Mati Polisi Israel
Senin, 01/06/2020 - 12:00:15 WIB
AS Luncurkan Misi Manusia, China Luncurkan Satelit Belt And Road Initiatives
Senin, 01/06/2020 - 11:57:16 WIB
Kuasa Hukum: Ruslan Buton Dipecat Dari TNI Karena Tolak TKA China Masuk Ke Maluku
 
Vape Makin Banyak Telan Korban
Vape Makin Banyak Telan Korban, Jumlahnya Sampai Ratusan

Minggu, 06/10/2019 - 22:46:48 WIB

 Politikriau.com PUsat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) (AS), Anne Schuchat mengungkapkan, ada 18 orang yang dikonfirmasi meninggal karena penyakit yang berkaitan dengan rokok elektrik (vape) di 15 negara bagi

Wakil Direktur Utama CDC, Anne Schuchat  menyampaikan, angka kematian dari 1.080 laporan penyakit paru-paru yang muncul akibat rokok elektrik pun meningkat. Ribuan kasus itu berasal dari 48 negara bagian AS dan Kepulauan Virgin.

“Kami belum melihat penurunan yang signifikan dari kasus-kasus baru,” kata Schuchat mengenai hasil investigasi terbaru pemerintah, dikutip dari Sputnik News. Bahkan, terjadi peningkatan kasus hingga 275 buah selama seminggu terakhir ini.

Tak hanya itu, terdapat 578 kasus yang jelas-jelas berkaitan dengan zat kimia yang dihisap, seperti rokok elektrik, nikotin, dan ganja. Bahkan, 78 persen pasien mengaku telah menggunakan produk THC, bahan aktif dalam marijuana. Sementara, 17 persen lainnya menggunakan produk nikotin secara ekslusif.

Data itu berasal dari sejumlah negara bagian, termasuk New York, Michigan, dan San Fransisco. Kini, AS gencar melarang penjualan rokok elektronik dengan aroma guna menekan angka kematian yang disebabkan oleh kebiasaan vaping.

“Kami tak bisa membiarkan penduduk, khususnya anak muda, terkena dampak buruk dari rokok elektronik,” ujar Trump beberapa waktu lalu.

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2020 - PT. MEDIA WARTA RIAU