Home
 
Adik Kandung BW Membeku Saat Ditanya Wartawan
Usai 9 Jam Digarap KPK, Adik Kandung BW Membeku Saat Ditanya Wartawan

Senin, 21/10/2019 - 22:29:13 WIB

Politikriau.com Penyidik
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggarap Adik Kandung Eks
Komisioner KPK Bambang Widjojanto (BW), Haryadi Budi Kuncoro.

Haryadi digarap sebagai saksi kasus dugaan suap proyek
pengadaan tiga unit QCC di PT Pelindo II yang menjerat mantan Dirut PT
Pelindo II, Richard Joost (RJ) Lino.

Haryadi merupakan staf pada
Direktur Teknik dan Manajemen Risiko PT Pelindo II (Persero). Dia
diperiksa sebagai saksi bersama Direktur Legal Kurnia Land, A Syafrullah
Alamsyah untuk tersangka RJ Lino.






Sekitar hampir sembilan jam diperiksa oleh penyidik KPK,
Haryadi akhirnya keluar dari Gedung Merah Putih KPK. Dia tampak
mengenakan kemeja putih lengan pendek dan berkacamata.

Saat
dicecar pertanyaan oleh awak media, dia tiba-tiba membeku dan tidak mau
berbicara sedikit pun. Padahal, awak media hanya mengonfirmasi ihwal
pemeriksaannya itu.

Tak puas belum mendapat jawaban dari Haryadi,
awak media terus mengikutinya hingga sampai ke Hotel Royal Kuningan
yang letaknya beberapa ratus meter dari gedung KPK. Namun, Adik Kandung
BW itu tetap bungkam dan kerap menundukkan kepalanya dari sorotan kamera
awak media.

Sementara itu, Juru Bicara KPK Febri Diansyah
mengatakan, pemeriksaan adik kandung BW itu kaitannya dalam kasus dugaan
suap yang menjerat RJ Lino. Febri mengatakan, Hariyadi didalami
perannya terkait pengadaan Quay Container Crane (QCC) di PT Pelindo II
(Persero).

"Penyidik mendalami keterangan saksi (Haryadi Budi
Kuncoro) terkait dengan proses pengadaan QCC di PT Pelindo II," kata
Febri saat dikonfirmasi, Senin (21/10).


Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan RJ Lino sebagai
tersangka sejak akhir 2015. Namun KPK belum juga menahan RJ Lino.

RJ
Lino diduga menyalahgunakan jabatannya dengan menunjuk langsung HDHM
dari China dalam pengadaan tiga unit QCC. Pengadaan QCC tahun 2010
diadakan di Pontianak, Palembang, dan Lampung. Proyek pengadaan QCC ini
membutuhkan uang sekitar Rp 100 miliar.

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2018