Home
Minggu, 21/04/2019 - 20:34:20 WIB
Mahfud MD Ramal Serangan KPU Curang Jauh Sebelum Pemilu
Minggu, 21/04/2019 - 19:03:28 WIB
Hina Prabowo, Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi
Minggu, 21/04/2019 - 19:03:20 WIB

Minggu, 21/04/2019 - 19:03:12 WIB
Minta Maaf ke Jokowi, Bupati Mandailing Natal Tiba-tiba Mundur
Minggu, 21/04/2019 - 13:38:41 WIB

Minggu, 21/04/2019 - 13:15:34 WIB
Aplikasi Ayo Jaga TTPS Klaim Tak Memihak Salah Satu Capres
Minggu, 21/04/2019 - 10:18:08 WIB
Cara Menerima Kekalahan agar Tak Berakhir di Rumah Sakit Jiwa
Minggu, 21/04/2019 - 10:15:01 WIB
Ternyata, Inilah Momen-momen Lucu sekitar Pilpres 2019
Minggu, 21/04/2019 - 08:15:52 WIB
BPN Curigai Babinsa dan Polisi Curangi Pemilu 2019
Minggu, 21/04/2019 - 08:15:43 WIB
Proses pemungutan suara di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Minggu, 21/04/2019 - 08:15:36 WIB
Aplikasi AyoJagaTPS Klaim Tak Memihak Salah Satu Capres
Minggu, 21/04/2019 - 08:15:29 WIB
Di Lampung, Pemenang Capres Tertukar Dari 02 Ke 01
 
Oleh: Dahlan Iskan
Muktamar OBOR

Minggu, 14/04/2019 - 21:21:22 WIB


Minggu, 14 April 2019, 05:03 WIB |

Dahlan Iskan/Net
TETAP saja Mahathir Muhamad adalah Mahathir Muhamad. "Saya akan pilih Tiongkok yang kaya daripada Amerika yang tidak jelas komitmennya," ujarnya. Bulan lalu. Seperti dikutip luas media internasional.
Berita terkait

    Menjenguk Bu Ani
    Gunung Garam
    Perut Gunung


Dor!

Ia pun ambil putusan. Sensitif. Rasional. Kereta cepat OBOR yang pernah ia batalkan itu silakan jalan lagi. Setelah Tiongkok mau turunkan harga.

Turun harga? Menjadi berapa? “Nilai turunnya saja bisa untuk membangun dua proyek menara kembar sekaligus," ujar DR Daim Zainuddin.

Daimlah yang ditugasi Mahathir untuk nego ulang. Ia pernah menjabat menteri keuangan. Dua kali. Di zaman pemerintahan Mahathir yang dulu. Kini jabatan resminya panasehat perdana menteri.

Daim sudah sangat tua, 80 tahun. Meski belum setua Mahathir. Yang tahun ini berumur 93 tahun.

Daim juga terlihat tidak sesehat Mahathir. Kalau jalan kaki sudah agak tertatih. Kadang pakai tongkat.

Daimlah yang mondar-mandir ke Beijing. Untuk membawa misi Mahathir: turun harga atau batal sama sekali.

Sikap Tiongkok awalnya juga sangat tegas: batal saja. Tapi Mahathir tahu. Proyek ini adalah simbol OBOR terpenting di Asia Tenggara. Proyek terbesar di Malaysia. Perlu nego. Mahathir tahu kemampuan Daim.

Daim adalah pengusaha. Sejak sangat muda. Setamat kuliah di Berkeley University California, Daim mulai merintis usaha. Bidang yang ia pilih adalah: bisnis garam. Bikin tambak garam. Ia beli lahan pantai barat. Ia belajar tambak sampai ke Thailand dan Taiwan.

Mengapa ia pilih bisnis tambak garam? Alasannya unik: ahli fengsui mengatakan bahwa Daim akan sukses kalau memilih bisnis yang ada hubungan dengan air.

Mantaplah Daim di bisnis tambak garam. Matanya pun berbinar. Saat ia melihat tambak garamnya sukses. Hampir sukses. Kristal-kristal garamnya sudah tampak memutih di tambaknya. Sebentar lagi bisa panen raya.

Alamak!

Hujan deras!

Kristal-kristal itu lenyap.

Tambak milik Daim-muda itu pun gagal total. Ia nyaris bangkrut.

Untung ia terjatuh ketika masih sangat muda. Mudah untuk bangkit lagi.

Lalu ia pindah ke bisnis properti. Di sini ia mulai sukses. Beneran. Lalu jadi politisi. Jadilah anggota DPR. Jadi menteri keuangan.

Dua kali pula. Periode pertama selama 8 tahun. Lalu digantikan oleh Anwar Ibrahim.

Saat krismon tahun 1998 Mahathir bertengkar dengan Anwar. Soal cara mengatasi krisis. Anwar ingin Malaysia  minta bantuan IMF. Mahathir tidak mau. Anwar dipecat. Digantikan oleh Daim lagi. Padahal Anwar sudah digadang-gadang bakal jadi calon penggantinya. Jabatannya pun sudah wakil perdana menteri. Merangkap menteri keuangan.

Kini Mahathir berkuasa lagi.

Mahathir tetap seperti dulu. Mengutamakan akal sehat: saat ini Malaysia perlu investasi asing. Yang besar. Untuk menghidupkan kembali perekonomian Malaysia. Yang lagi di bibir jurang itu. Juga untuk memulihkan kepercayaan asing.

Sayangnya perjanjian proyek itu sudah mengikat Malaysia: kalau batal begitu saja Malaysia harus membayar kompensasi besar. Syarat itu sudah ditandatangani Najib Razak. Yang kalah di Pemilu hampir setahun lalu.

Waktu itu Najib komit. Untuk membangun kereta cepat sejauh 680 Km. Sejauh Jakarta ke Surabaya. Mulai dari pantai Barat Malaysia. Memotong ke pantai timur Terengganu. Lalu menyusuri pantai ke arah utara. Berakhir di Kota Bahru. Ibukota negara bagian Kelantan. Dekat perbatasan dengan negerinya Jirayut itu.

Saya pernah menyusuri jalur ini. Juga sampai ke Pattani di Thailand. Kawasan pantai Timur ini memang jauh tertinggal dari Barat.

Bagi Malaysia kereta ini nanti akan lebih berperan di angkutan barang. Untuk membawa hasil bumi di Timur ke pelabuhan besar Port Klang di pantai Barat. Jalan darat. Tidak lagi harus melewati perairan Singapura.

Bagi Tiongkok lebih penting lagi. Inilah potongan jalur kereta Asia. Yang menghubungkan Singapura ke seluruh dunia. Lewat Tiongkok.

Mahathir memang negosiator ulung. Demi negerinya. Ia tahu proyek itu mahal. Tepatnya: kemahalan. Ia tahu hitungan. Seperti Pak JK. Pun ia menangkap ada aroma lain mengapa proyek itu mahal. Ada mark up. Untuk kepentingan Pemilu. Agar Najib terpilih lagi.

Tapi bukan alasan mark up itu yang dipakai Mahathir untuk nego. Mahathir pilih blak-blakan. Apa adanya. "Ekonomi Malaysia lagi sulit. Tidak akan kuat membayar hutang sebanyak itu," ujar Mahathir selalu.

Kalau alasan mark-up yang dipakai akan sulit. Secara hukum maupun psikologis. Secara hukum toh sudah disetujui. Secara psikologis akan menyinggung Tiongkok: Anda nyogok!

Mahathir memilih cara elegan. Meski kelihatannya seperti mengungkap kelemahan diri sendiri.

Mahathir lantas menekan Tiongkok. Harga yang semula RM 65,5 miliar itu turun tinggal RM 44 miliar. Turunnya saja RM 21 miliar. Itu tadi. Cukup untuk membangun dua menara kembar. Yang begitu iconic di Kuala Lumpur.

Memang panjang proyek itu dikurangi. Dipotong 40 km. Dengan cara memperbaiki jalur. Tapi hitungan perkilometernya pun memang lebih murah. "Turun dari 98 juta Ringgit ke 68 juta," ujar Daim kepada wartawan Jumat kemarin.

Dua pihak kini lega. Mahathir bisa memenuhi sebagian janji kampanyenya yang garang: batalkan proyek Tiongkok.

Tiongkok juga lega. Akhir bulan ini akan ada muktamar OBOR di Beijing. Semua negara yang terkait proyek One Belt One Road akan hadir. Kasus Malaysia tidak akan jadi duri lagi dalam Summit itu.

Saya belum dapat keterangan siapa yang hadir di muktamar itu untuk mewakili DPC OBOR  cabang Indonesia.

loading

News Sidebar A
The Economist: Jokowi Melanggar Prinsip Untuk Menangkan Pilpres

    Tepis Tuduhan, Prabowo:
    Bawaslu Umumkan Hasil Klarifikasi Skandal Surat Suara Sehari Sebelum Pencoblosan Di Malaysia
    Gatot Nurmantyo Endus Indikasi Pelemahan TNI
    Bakar Ban Di KPK, Demonstran Desak Novel Dipecat

Ambassador Talks
Jamu Jago
Jaya Suprana Show
Lomba Foto 300x250

Mediakit
Sabar Gorky

19
SHARES

Home
Redaksi & Disclaimer
jewelry lace wigs Copyright 2018