Home
Rabu, 15/07/2020 - 23:43:52 WIB
Polri Akui Brigjen Prasetijo Keluarkan Surat Sakti untuk Djoko Tjandra
Rabu, 15/07/2020 - 13:31:16 WIB
Ilmuwannya Ini Akui Pemerintahnya Tutupi Isu Virus Corona Sejak Awal
Rabu, 15/07/2020 - 13:30:23 WIB
Bisakah Kita Terinfeksi COVID-19 Dua Kali?
Rabu, 15/07/2020 - 13:30:19 WIB
Lambung Kapal Perang Ini Bocor dan Akhirnya Tenggelam
Rabu, 15/07/2020 - 11:59:16 WIB
Terkuak, IPW Sebut Surat Jalan untuk Djoko Tjandra Diterbitkan Bareskrim Polri
Rabu, 15/07/2020 - 09:49:13 WIB
Pulihkan Perekonomian, Arief Poyuono Usul ke Jokowi Legalkan Perjudian di Indonesia
Rabu, 15/07/2020 - 09:48:29 WIB
Tuan N yang Positif Covid-19 Kemarin Menginap Disalah Satu Homestay di Pekanbaru
Selasa, 14/07/2020 - 22:55:38 WIB
Usut Dugaan Korupsi Dana PMB-RW
Selasa, 14/07/2020 - 11:17:36 WIB
Bawa Paksa Jenazah Covid-19, Anggota DPRD Ditetapkan Tersangka
Selasa, 14/07/2020 - 11:17:31 WIB
Yunani Ancam Akan Merubah Rumah Atatatur Museum Genosida
Selasa, 14/07/2020 - 11:17:26 WIB
Ledakan Bom Bunuh Diri Di Kantor Intelijen Afghanistan, 11 Orang Tewas
Senin, 13/07/2020 - 14:55:08 WIB
Pekanbaru Masih Zona Merah untuk Belajar Mengajar Tatap Muka, Disdik Akan Tegur Sekolah yang Bandel
 
Mau Laporkan Aparat ke Mahkamah Internasional,
Mau Laporkan Aparat ke Mahkamah Internasional, MER-C Siapkan Bukti Ini

Sabtu, 25/05/2019 - 22:37:51 WIB

Relawan senior MER-C tunjukkan bukti peluru kerusuhan di Tanah Abang.

Politikriau.com – Kelompok Relawan Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee atau MER-C, berencana melaporkan aparat Kepolisan Indonesia ke Mahkamah Internasional. Hal ini, lantaran aksi dugaan kekerasan aparat terhadap warga sipil, termasuk petugas medis dan anak di bawah umur pada aksi 21-23 Mei 2019.

MER-C saat ini mengumpulkan sejumlah berkas dan alat bukti yang ada. Beberapa alat bukti di antaranya, peluru tajam yang diduga digunakan oleh aparat di lapangan.

"Jadi, ada peluru tajam dan ini belum terpakai, ini ditemukan oleh tim kami di lapangan," kata Relawan Medis MER-C, Joserizal di kantornya, Jalan Kramat Lontar, Senen, Jakarta Pusat, Sabtu 25 Mei 2019.

Alat bukti lainnya, yakni ditemukannya selongsong peluru karet yang sudah terpakai. Selain itu, ditemukan juga timah yang diduga bekas peluru yang berasal dari senjata laras pendek.

"Ini ada timah, biasanya dari senjata genggam atau revolver. Nah, ini selongsongnya, sepertinya peluru karet. Ini diambil dari pasien yang dioperasi, ini diambil dari relawan," jelas Jose.
Jika tampak tanda seperti ini pada tubuh Anda, itu berarti Anda terserang ..
Cara mengatasi parasit dalam tubuh Anda.
   
SAMSUNG S9 dengan total hanya Rp. 2 800 000! Buruan, jangan sampai kehabisan!
Copy Smartphone terbaik tahun ini sudah bisa Anda dapatkan.

Selain itu, MER-C juga tengah mengumpulkan keterangan dari saksi yang ada untuk menguatkan laporan yang akan diajukan.
Dengan ditemukannya beberapa alat bukti tersebut, Jose menduga Kepolisian juga menggunakan peluru tajam dalam mengamankan aksi unjuk rasa. Hal ini, tentunya tak tepat. Sebab, pihak yang dihadapi adalah rakyat yang tak memiliki senjata dan hanya menyuarakan aspirasinya.

"Ini hanya sebuah demonstrasi, orang tak pakai senjata, cuma batu. Jadi, saya rasa ini tak seimbang dengan senjata api yang dipunyai aparat," ujarnya.

Selain itu, Jose menekankan, penyerangan terhadap petugas medis dan para pendemo itu sangat melanggar aturan dan bertentangan dengan Konvensi Jenewa. Berdasarkan Konvensi Jenewa, apabila kondisi berat seperti perang saja, relawan medis, sipil, dan wanita itu dilindungi. Apalagi, hanya aksi demonstrasi yang tak seberat peperangan.

"Perang saja ada etika, apalagi hanya demo. Tak bisa, perang bunuh orang sembarangan. Ini dinyatakan dalam Geneva Convention, meski terjadi kericuhan, tak begitu penanganannya. Menghadapi sipil, tidak dengan cara militer," kata Jose.


Viva

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2020