Home
Selasa, 24/11/2020 - 13:26:53 WIB
DPR RI Desak Polisi Usut Tuntas Lazada dan Tokopedia Jual Bong Identik Buat Nyabu dan Senpi
Selasa, 24/11/2020 - 11:55:27 WIB
Ketua KPK Sindir Anies Unggah Foto Baca Buku How Democracies Die
Selasa, 24/11/2020 - 10:48:54 WIB
Tembus Setengah Juta, RI Jadi Negara dengan Kasus COVID-19 Terbanyak se-ASEAN
Selasa, 24/11/2020 - 10:48:33 WIB
Salah Satu Pemain Terpapar Covid-19, Drama Jisoo BLACKPINK Tunda Syuting
Selasa, 24/11/2020 - 10:48:30 WIB
Satpol PP Bantah Penurunan Baliho Habib Rizieq Dihalangi FPI
Senin, 23/11/2020 - 19:10:16 WIB
Tersangka Teror Lempar Batu di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai Ditangkap Polisi
Senin, 23/11/2020 - 18:42:15 WIB
Ada JK Dibalik Anies Baswedan?
Senin, 23/11/2020 - 11:21:10 WIB
Pengamat: Mungkin Anies Takut Politik Indonesia Kembali Ke Otoritarianisme
Senin, 23/11/2020 - 11:20:13 WIB
Diduga Terlibat Peredaran Narkoba, Polresta Pekanbaru Tangkap Seorang Oknum Polisi
Senin, 23/11/2020 - 11:20:09 WIB
Jokowi: Waspada Strategi Gas Dan Rem!
Minggu, 22/11/2020 - 21:15:50 WIB
Rumah Rizieq Shihab Didatangi Polisi dan TNI, Untuk Dilakukan Tes Swab, FPI: Kami Tolak
Minggu, 22/11/2020 - 18:51:13 WIB
Tagar Dudung Baliho Menggema di Media Sosial
 
Koktail Antibodi Yang Lebih Ampuh Dari Regeneron Donald Trump
Ilmuwan Israel Kembangkan Koktail Antibodi Yang Lebih Ampuh Dari Regeneron Donald Trump

Senin, 12/10/2020 - 11:30:31 WIB

Politikriau.com Para ilmuwan di Israel meluncurkan sebuah koktail antibodi yang digadang-gadang lebih ampuh dari Regeneron yang digunakan untuk merawat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump yang terinfeksi Covid-19.


Dilaporkan The Times of Israel pada Minggu (11/10), koktail antibodi itu dikembangkan oleh para ilmuwan di Universitas Tel Aviv, dan seluruhnya didasarkan pada antibodi buatan manusia. Itu menjadi keunggulan mengingat Regeneron sendiri dikembangkan dengan antibodi yang diproduksi tikus.


"Antibodi kami sangat mirip dengan apa yang diterima Presiden Trump," kata ahli imunologi, Natalia Freund.


"Perbedaannya adalah bahwa koktail yang dia terima dilaporkan sebagian didasarkan pada antibodi yang diproduksi oleh tikus yang dimodifikasi secara genetik, sementara ini didasarkan pada antibodi manusia. Berarti, dalam hal keamanan, stabilitas, dan kemungkinan efek samping yang lebih rendah, ada keuntungan," tambahnya menjelaskan.


"Visi kami adalah menggunakannya baik sebagai pengobatan untuk pasien kritis maupun perlindungan populasi berisiko dan orang yang terpapar virus corona," lanjut Freund.


Freund mengatakan, setelah disuntikkan, antibodi itu bisa memberikan perlindungan selama beberapa pekan hingga akhirnya vaksin yang ditunggu-tunggu berhasil dikembangkan.


Meski begitu, saat ini antibodi tersebut saat ini baru akan melakukan diuji klinis pada manusia, sehingga efektivitas dan keampuhannya belum dapat dipastikan.


Tetapi, para peneliti sudah melakukan uji coba pada sel, di mana hasilnya virus corona tidak dapat menginfeksi mereka.


Koktail antibodi tersebut diketahui terbuat dari ribuan antibodi dari 18 pasien Covid-19 yang telah pulih. Proses pemilihan pasien yang pulih pun dilakukan dengan selektif dengan melihat pola yang paling menjanjikan.


"Enam antibodi kami yang paling menjanjikan mengikat area target berbeda pada virus," kata Freund.


"Ini bukan mekanisme tunggal, melainkan beberapa mekanisme aksi yang saling melengkapi. Antibodi mengidentifikasi berbagai titik lemah pada virus, mengikat bintik-bintik ini, dan menetralkannya," jelasnya.


Sebelumnya, pada Jumat (2/10), Trump mengumumkan dirinya telah terinfeksi Covid-19. Setelah itu, ia dirawat di Pusat Medis Militer Nasional Walter Reed.


Di sana, tim medis memberi Trump koktail Regeneron yang masih dalam uji coba. Hasilnya pun diyakini memuaskan hingga sang presiden hanya dirawat selama kurang lebih tiga hari. 

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2020