Home
Jumat, 15/01/2021 - 20:24:01 WIB
Hari Ini Diperiksa Kasus Swab, Habib Rizieq dan Menantu Terancam 10 Tahun Penjara
Jumat, 15/01/2021 - 16:15:08 WIB
Kapolda Riau-Danrem 031/WB Pantau Giat Karya Bhakti TNI-Polri Bersama Masyarakat Kota
Jumat, 15/01/2021 - 15:29:22 WIB
KPK Ungkap Potensi Kerugian Negara di Proyek Vaksin COVID-19
Jumat, 15/01/2021 - 14:26:25 WIB
Proyek Labor SMK Disdik Riau Diduga 'Kongkalingkong', Aparat Hukum Harus Bertindak
Kamis, 14/01/2021 - 21:48:31 WIB
Bawaslu Riau Bersama 5 Kabupaten Susun Keterangan Tertulis untuk Persidangan di MK
Kamis, 14/01/2021 - 20:40:33 WIB
Rizal Ramli Ogah Akui Pernyataan Pemerintah Tentang Penguatan Ekonomi 2021
Kamis, 14/01/2021 - 15:25:39 WIB
10 Tokoh di Pekanbaru Divaksin Covid-19, Termasuk Wakil Wali Kota Ayat dan Sekda Muhammad Jamil
Kamis, 14/01/2021 - 13:27:11 WIB
Nekat Nyeberang Dengan Berjalan Kaki, Pria Ini Terkapar Dihantam 4 Kendaraan Secara Beruntun
Kamis, 14/01/2021 - 08:44:23 WIB
Calon Kapolri Komjen Listyo Lewati 4 Angkatan, Salip Jenderal Senior Lulusan Terbaik
Kamis, 14/01/2021 - 07:04:49 WIB
Jasa Raharja Serahkan Santunan 5 Korban Meninggal Kecelakaan Di Tol Permai di Hari Yang Sama
Kamis, 14/01/2021 - 07:04:06 WIB
Viral Pria Berambut Gondrong Jadi Korban Begal Payudara
Rabu, 13/01/2021 - 22:33:46 WIB
Walikota Pekanbaru Mengikuti FGD Bersama Tokoh Lintas Agama dan Tokoh Masyarakat
 
Soal Buku "How Democracies Die
Pengamat: Mungkin Anies Takut Politik Indonesia Kembali Ke Otoritarianisme

Senin, 23/11/2020 - 11:21:10 WIB

Politikriau.com Foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang tengah duduk santai mengenakan sarung sambil membaca buku berjudul "How Democracies Die" karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt terus menjadi perbincangan hangat.


Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin mengatakan, foto yang diunggah di akun media sosial orang nomor satu di Ibukota DKI itu sarat memiliki makna politik.


"Mungkin saja Anies sedang menyindir pihak lain atau sedang mencari jawaban dari buku mengapa demokrasi mati? Dan jika tidak dijaga, maka demokrasi bisa saja mati," kata Ujang Komarudin saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Senin (23/11).


Menurut Ujang, gestur Anies juga dapat dipahami bahwa dia mencoba mencari jawaban atas situasi nasional belakangan ini bahwa demokrasi terancam.


"Turunnya TNI dalam menurunkan spanduk HRS (Habib Rizieq Shihab), itu menandakan bahwa demokrasi sedang dalam ancaman," lanjut Ujang.


Atau lebih jauh daripada itu, menurut dosen Universitas Al-Azhar Indonesia ini, potensi dwifungsi ABRI (sekarang TNI) yang akan hidup kembali apabila TNI sudah masuk ke ranah-ranah politik.


"Jika dwifungsi ABRI/TNI kembali, maka demokrasi akan mati. Anies sedang melihat fenomena politik hari ini, dimana TNI sudah diterjunkan dalam urusan politik. Mungkin Anies takut jika politik Indonesia kembali ke otoritarianisme," demikian Ujang Komarudin. 

Home
Redaksi & Disclaimer
Copyright 2020