Pegawai Bank Plat Merah di Riau Kuras Uang Nasabah Rp 1,3 M

Sepasang Pegawai Bank Plat Merah di Riau Kuras Uang Nasabah Rp 1,3 Miliar, Begini Modusnya..

Politikriau.com PEKANBARU,  - Sepasang mantan pegawai bank plat merah di Riau yang berkantor di Kota Pekanbaru, inisial NH (37) mantan Teller di bank tersebut dan AS (42) mantan Head Teller pada bank milik pemerintah tersebut, diringkus Polda Riau. Keduanya ditangkap atas kasus Tindak Pidana Perbankan.

Hal ini terungkap dalam ekspose yang dilakukan Subdit II Direktorat Reserse Kriminal Khusus saat Konferensi Pers di halaman belakang markas komando Polda Riau, jalan Pattimura nomor 13 Kota Pekanbaru, Selasa sore (30/3/2021) kemarin.

Dalam keterangannya, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto didamping Ps Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Riau Kompol Teddy Ardian mengatakan, kejadian bermula dari laporan salah seorang nasabah Bank Plat Merah tersebut bahwa telah terjadi penyusutan jumlah uang dalam rekeningnya, sehingga menyebabkan kerugian pada nasabah tersebut dalam jumlah miliaran rupiah.

Dalam keterangannya, Narto mengatakan bahwa pada akhir Desember 2015, nasabah datang untuk mencetak rekening tabungan milik ibunya dan didapati uang yang tersisa dalam rekening tinggal sekitar Rp9 juta. Padahal nasabah tersebut tidak melakukan transaksi apapun dan uang tersebut disimpan untuk persiapan masa depan.

Atas kejadian itu, nasabah melaporkan ke pihak Kepolisian. Subdit II Ditkrimsus Polda Riau langsung bergerak untuk melakukan penyelidikan. Setelah dilakukan pemeriksaan dokumen bank, Penyidik mendapatkan bukti yang menguatkan dugaan tindak pidana, yang menimpa beberapa nasabah yang mengalami kejadian yang sama. Total kerugian nasabah mencapai hampir Rp 1,4 miliar.

Penyidik Polda Riau telah menangkap dan menahan 2 orang tersangka atas kasus ini yakni NH (37) mantan Teller di bank tersebut dan AS (42) mantan Head Teller pada bank yang sama.

Dalam prakteknya, tersangka NH yang pada masa itu bertindak sebagai Teller memantau rekening milik nasabah yang diam atau jarang dilakukan aktifitas. Dalam pantauan tersangka NH ini akhirnya ia melihat ada tiga rekening dalam jumlah saldo cukup besar dan tidak pernah dilakukan aktifitas oleh pemilik rekening. Kemudian NH melakukan penarikan uang dengan menulis dan memalsukan tanda tangan nasabah.

Penarikan uang dilakukan tersangka NH terhadap rekening tersebut dalam beberapa kali tahapan penarikan. Sedangkan tersangka AS sebagai Head Teller yang seharusnya melakukan check dan recheck di setiap penarikan dana nasabah malah memberikan user ID dan politikriau.com paswordnya selaku pengawas kepada tersangka NH yang bertindak sebagai Teller, hal ini tentu memudahkan tersanka NH melakukan aksinya.

Penyidik menyita barang bukti 228 slip transaksi asli atas nama para nasabah yang jumlahnya bervariasi antara Rp 7 juta hingga Rp 98 juta.

Penyidik juga telah melakukan uji forensik terhadap tanda tangan yang tertera pada slip penarikan dengan tanda tangan nasabah.

Hasil uji forensik memastikan bahwa antara tanda tangan pada slip penarikan yang ditulis oleh pelaku Non Identik dengan tanda tangan nasabah. Hal ini menguatkan dugaan penyidik atas perbuatan tersangka.

NH dan AS dibidik dengan pasal berlapis yakni pasal 49 ayat (1) huruf a UU nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU nomor nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan pasal 49 ayat (2) hurub b UU nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, dengan ancaman hukuman 5 hingga 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 200 miliar.

Kabid Humas Polda Riau KBP Narto mengingatkan warga masyarakat/nasabah untuk keselamatan dan keamanan uang yang disimpan di bank. “Bahwa pekerja bank memiliki potensi untuk melakukan tindak pidana perbankan, bisa melakukan pencurian dana nasabah,” ujarnya mengingatkan.

“Oleh karena itu saya menghimbau dan mengingatkan masyarakat/nasabah agar rutin mengecek saldonya. Apalagi bagi pemilik rekening dormant atau rekening diam,” tutupnya.