Partai Nanggroe Aceh Bisa Makin Tercecer Dan Tenggelam

Masih Dipimpin Dari Dalam Penjara, Partai Nanggroe Aceh Bisa Makin Tercecer Dan Tenggelam

Politikriau.com Sebuah partai politik tidak akan mampu bersaing jika dipimpin dari balik jeruji besi. Hal ini juga mengabaikan sejumlah etika yang berdampak pada kehancuran partai.

Demikian dikatakan pengamat politik, Nasrul Zaman, terkait kondisi Partai Nanggroe Aceh (PNA) yang hingga kini masih saja dipimpin sang ketua umum, Irwandi Yusuf, yang saat ini masih mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.


Irwandi divonis bersalah atas kasus suap dana alokasi khusus yang melibatkan bekas Bupati Bener Meriah, Ahmadi.

Menurut Nasrul, partai politik saat ini sangat tergantung dari sosok-sosok yang mengendalikan partai itu. Sehingga, setiap parpol sepatutnya memilih sosok-sosok yang bersih dan kredibel untuk dijadikan seorang pemimpin dan panutan.

"Ya tidak etis lah (dipimpin dari penjara). Sekarang kan kita mau memperkuat partai lokal. Tidak mungkin dia memimpin dari penjara," kata Nasrul kepada Kantor Berita RMOLAceh, Jumat (2/4).

Nasrul juga menilai memimpin partai politik dari balik penjara adalah sebuah pelanggaran semua etika yang ada. Dari sisi efektivitas, Irwandi tidak akan dapat diajak berdiskusi dengan pengurus partai di Aceh.

Apalagi, di dalam penjara, dia tidak punya waktu dan fasilitas yang memungkinkan untuk menggelar pertemuan-pertemuan virtual.

Karena itu Nasrul menyarankan Irwandi menyerahkan kepemimpinan PNA kepada kader lain. Irwandi juga telah beberapa tahun memimpin partai.

Nah, sosok yang paling tepat untuk memimpin PNA, kata Nasrul, adalah Samsul Bahri alias Tiyong.

"Serahkankan sama Tiyong. Selama ini sebagai ketua tim sukses memiliki rekam jejak yang baik. Saya pikir hal yang wajar. Tidak masalah. Dia juga cakap dalam mengorganisir," ucap Nasrul.

Dengan menyerahkan kepemimpinan kepada Tiyong, berarti Irwandi menjalankan sebuah rekonsiliasi yang saat ini dibutuhkan oleh PNA. Jika tidak, PNA akan tenggelam akibat konflik di internal partai. Sudah saatnya seluruh kader PNA membangun solidaritas dan soliditas.

Apalagi di masa depan, PNA memiliki tugas yang cukup berat. Tugas itu tidak akan dapat diselesaikan dengan baik jika dipimpin dari dalam penjara.

“Serahkan saja kepemimpinan partai kepada kader lain. Supaya partai bisa berkembang lebih besar dan lebih baik," kata Nasrul.