Tsunami Covid-19 India:

Tsunami Covid-19 India: Jenazah Berdatangan-Krematorium Antre Panjang, Petugas Pun Kehabisan Kayu Ba

Politikriau.com Krisis kesehatan yang melanda India belakangan ini benar-benar mengejutkan. Dengan hampir setiap menit ada pasien yang meninggal, maka itu berarti antrean di krematorium menjadi begitu panjang dan dibutuhkan banyak kayu bakar untuk proses kremasi.


Bagi umat Hindu, kremasi adalah bagian penting dari ritual pemakaman. Mereka meyakini jenazah harus dimusnahkan untuk memisahkannya dengan jiwa.

Dengan jumlah kremasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, petugas kremasi di Kota Delhi menghadapi  kekurangan kayu. Setiap tumpukan kayu pemakaman membutuhkan sekitar 3-4 kwintal kayu.


Nigambodh Ghat, Seorang pejabat senior sipil, mengatakan ia telah melakukan sekitar 2.526 pemakaman antara tanggal 1 dan 23 April saja. Sebanyak 2.099 di antaranya dilakukan kremasi dengan bahan dasar kayu. Dia telah menghabiskan lebih dari 8.000 kwintal kayu untuk jumlah kremasi itu.

"Negara bagian tempat kami biasa mendapatkan kayu sedang berjuang untuk mengatasi permintaan kayu yang meningkat,” kata pejabat tersebut, seperti dikutip dari Times of India, Rabu (28/4).

Ia  menambahkan bahwa antrean di krematorium semakin panjang. Para petugas hampir tidak pernah beistirahat selama 24 jam.

Jenazah datang dan datang lagi, semua antre. Sementara persediaan kayu bakar harus menunggu.

Seorang manajer dari sebuah LSM yang menjalankan krematorium mengatakan bahwa sebagian besar kayu di ibukota berasal dari Gadhganga-Hasanpur di Uttar Pradesh (UP).

“Karena di UP permintaan juga tinggi, kontraktor menolak untuk menerima pesanan baru," kata sumber lain.

Seorang manajer pemakaman di krematorium Karol Bagh menyatakan bahwa beberapa kontraktor sekarang menjual kayu dengan harga setinggi 750 Rupee per kuintal (sekitar Rp 146.000).

Seorang pejabat di perusahaan selatan juga mengatakan bahwa beberapa negara pemasok seperti UP dan MP menyaksikan peningkatan konsumsi internal.

"Mereka juga tidak bersedia mengirim kayu tambahan kepada kami. Jika situasi yang sama terus berlanjut, kayu untuk kremasi juga akan mulai dijual di pasar gelap,” tambah sumber lainnya.

Selain kekurangan kayu, krematorium juga sudah tidak memiliki tempat lagi untuk menerima jenazah.

“Kami harus meminta keluarga untuk mengambil kembali jenazah dan mengkremasinya di tempat lain,” kata Ram Pal, yang bertugas di krematorium Dayanand Muktidham selama 11 tahun.

Selama lima hari belakangan, setidaknya 40 hingga 50 jenazah telah dikremasi setiap hari. Ini jauh di luar kapasitas krematorium yang hanya bisa mengkremasi hingga 30 jenazah dalam sehari, katanya.